Pesan dari Masjid Kecil di Kusadasi

Setelah setengah harian menyusuri pantai, melihat keramaian pelabuhan, dan menyegarkan mata di toko-toko yang berderet, saya tak sengaja menemukan sebuah masjid kecil. Kaleici Camii namanya. Masjid ini terletak tak jauh dari pantai Kusadasi, tersembunyi di antara toko-toko jaket kulit dan cenderamata.

Masjid ini tak seindah masjid-masjid di Turki lainnya. Hanya berbentuk kotak yang dibubuhi warna putih. Tak tampak satupun hiasan di sana. Polos saja.

Itu sebabnya, saya tak terlalu tertarik melihat bagian dalam masjid ini. Sejujurnya, saya ke sini hanya karena ingin menumpang buang air kecil, lalu duduk-duduk sebentar melonjorkan kaki yang pegal akibat berkeliling pantai.

Saat saya sedang asyik duduk di beranda masjid, tiba-tiba ada ibu tua berjilbab yang mendekati saya. Bajunya tak terlalu bagus, coat panjang cokelat khas Turki, cenderung kumal dan sedikit berbau. Rambutnya tertutup jilbab berbunga yang juga tak kalah kumalnya. Saya kaget, takut dia menghampiri saya untuk meminta uang, makanan, atau apapun itu. Apalagi kemudian dia berbicara dalam bahasa Turki sambil menepuk-nepuk pundak saya. Pikiran buruk berkecamuk dalam otak saya saat itu “jangan-jangan saya dihipnotis.”

Saya segera merapikan tas dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata “sholah..sholah..” yang diucapkannya sambil mengatupkan tangannya ke dada lalu menunjuk ke dalam masjid. Ternyata, ibu ini menyuruh saya sholat. Jujur, saya sebenarnya tak berniat sholat di sini. Nanti saja pikir saya, sesampainya di hostel. Tapi ajakan ibu itu membuat saya jadi malu kepada diri sendiri. Skak mat buat saya yang menunda sholat. 

Saya pun segera berwudhu, kemudian menuju sholat di lantai dua. Tempat yang kecil  dan kosong. Tak ada orang lain di sana, hanya ada saya dan bapak-bapak berjanggut berbaju putih.

Setelah selesai sholat, saya langsung beranjak karena saya harus segera kembali ke Selcuk dengan minibus. Tapi sang ibu berjilbab bunga-bunga tadi menghampiri saya lagi. Kali ini ia membawa sebuah gelas plastik berisi air, menyuruh saya meminumnya. Bagi saya, yang memang haus sekali saat itu, air putih yang sebenarnya biasa saja jadi terasa sangat nikmat. Belum selesai rasa terharu saya, tiba-tiba ia menyerahkan sebuah tasbih berwarna biru, (dengan bahasa tubuh) menyuruh saya mengambilnya, meminta saya menggunakannya untuk berdzikir dan berdoa. Dia lalu berkata “Alloh kabul etsin, Alloh kabul etsin, Alloh kabul etsin.” Semoga Alloh mengabulkan doa kamu.

Oh my God. Meleleh air mata saya.

Advertisements

2 thoughts on “Pesan dari Masjid Kecil di Kusadasi

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s