Pesan dari Masjid Kecil di Turki

Turki memang negara muslim yang liberal. Banyak sekali ajaran “keluar pakem” yang ada di negara cantik yang pernah dikuasai Kekaisaran Ottoman ini. Namun anehnya, di sini saya malah mendapat pesan sekaligus teguran dari Tuhan.

Pesan itu saya peroleh ketika saya berada di Kusadasi, salah satu pelabuhan dan pantai terkenal di Turki. Setelah setengah harian berputar-putar di pantai, melihat keramaian pelabuhan, dan cuci mata di toko-toko yang berderet, saya tak sengaja menemukan sebuah masjid kecil. Kaleici Camii namanya. Masjid ini terletak tak jauh dari pantai, tersembunyi di antara toko-toko jaket kulit dan cenderamata.

Masjid ini tak seindah masjid-masjid di Turki lainnya yang telah saya lihat di hari-hari sebelumnya. Hanya berbentuk kotak yang dibubuhi warna putih. Tak tampak satupun hiasan di sana. Polos saja.

Itu sebabnya, saya tak terlalu tertarik melihat bagian dalam masjid ini. Sejujurnya, saya ke sini hanya karena ingin menumpang buang air kecil, lalu duduk-duduk sebentar melonjorkan kaki yang pegal akibat berkeliling pantai.

Sedang enaknya duduk di beranda masjid, tiba-tiba ada ibu-ibu tua berjilbab yang mendekati saya. Bajunya tak terlalu bagus, jas panjang cokelat khas Turki yang cenderung kumal dan sedikit berbau. Dia memakai jilbab berbunga yang juga tak kalah kumalnya. Di awal saya kaget, takut kalau dia menghampiri saya untuk meminta uang, makanan, atau apapun itu. Apalagi kemudian dia berbicara dalam bahasa Turki sambil menepuk-nepuk pundak saya. Yang berkecamuk dalam pikiran saya saat itu, “jangan-jangan saya dihipnotis.”

Saya sudah ingin pergi saja. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata “sholah..sholah..” yang diucapkannya sambil mengatupkan tangannya ke dada lalu menunjuk ke dalam masjid. Ternyata, ibu ini menyuruh saya sholat. Awalnya, saya sebenarnya tak berniat sholat di sini. Nanti saja pikir saya, sesampainya di hostel. Tapi ajakan ibu itu membuat saya jadi malu dan tak enak hati. Skak mat buat saya yang menunda sholat. 

Saya pun segera berwudhu dan menuju tempat sholat di lantai dua. Tak ada orang di sana, hanya ada saya dan bapak-bapak berjanggut berbaju putih. Setelah selesai sholat, saya langsung beranjak karena saya harus segera kembali ke Selcuk dengan minibus. Tapi sang ibu berjilbab bunga-bunga tadi menghampiri saya lagi. Kali ini ia membawa sebuah gelas plastik berisi air, menyuruh saya meminumnya. Bagi saya, yang memang haus sekali saat itu, air putih yang sebenarnya biasa saja jadi terasa sangat nikmat. Belum selesai rasa terharu saya, tiba-tiba ia menyerahkan sebuah tasbih berwarna biru, (dengan bahasa tubuh) menyuruh saya mengambilnya, meminta saya menggunakannya untuk berdzikir dan berdoa. Dia lalu berkata “Alloh kabul etsin, Alloh kabul etsin, Alloh kabul etsin.” Semoga Alloh mengabulkan doa kamu.

Oh my God. Meleleh air mata saya.

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s