Belajar Kebersamaan dari Wae Rebo

ars 300-A

Melihat Mbaru Niang dan mengamati kehidupan bersahaja warga Wae Rebo. Begitulah tujuan saya dan anggota rombongan ArchitecTour ini. Ya, sejak mendengar keelokan rumah adat Wae Rebo beberapa tahun ini, keinginan kami untuk mengunjungi tempat ini begitu menggebu.

Pati gici  arit, cingke  gici  iret  (bagi  seadil-adilnya, belah  dengan  sebijaksana mungkin) adalah pepatah Manggarai yang diusung tinggi warga Wae Rebo. Itu sebabnya, kehidupan di sini begitu rukun tanpa banyak riak perselisihan. Paling tidak, itulah yang rombongan kami rasakan selama 3 hari berada di tempat yang kerap dijuluki sebagai negeri di atas awan ini.

Sebelum menjejakkan kaki di bumi Wae Rebo, Yori Antar, arsitek yang memprakasai pembangunan kembali desa Wae Rebo sudah menceritakan kepada kami bahwa hanya ada 7 rumah kerucut di sana. Jumlah ini tak boleh ditambah sejak dulu kala, karena itu sudah merupakan aturan mendasar dari nenek moyang mereka.

Nah, karena hanya ada 7 buah rumah, hanya keturunan laki-laki dan keluarganya saja yang bisa tinggal di desa ini. Wanita yang menikah dengan orang di luar Wae Rebo atau anak-anak yang mesti menempuh pendidikan, tinggal di Kombo, desa “kembaran” Wae Rebo.

Di satu rumah tersebut, tinggal 6-8 keluarga. Jika masing-masing memiliki 3-4 anggota keluarga saja, dalam satu Mbaru Niang, terdapat sekitar 20-25 orang. Bagaimana mereka bisa hidup berdampingan dengan rukunnya?

Ruang Komunal

Ketika menanyakan hal ini kepada Alexander Ngandus, ketua adat Wae Rebo, beliau tidak menjawabnya dengan kata-kata. Ia malah mempersilahkan saya masuk ke rumah yang mana saja, untuk melihat sendiri kehidupan mereka. Tawaran yang tentu tak akan saya sia-siakan.

Saya dan beberapa anggota rombongan masuk ke dalam salah satu Mbaru Niang, yang terletak persis di sebelah Mbaru Tembong. Di Wae Rebo, terdapat 2 jenis rumah tinggal di sini, yakni Mbaru Tembong (Gendang) yang merupakan rumah terbesar dan tersuci, dan Mbaru Niang, yang ditinggali warga kebanyakan. Mbaru Niang berukuran tinggi 11m, dengan diameter berukuran sama, sementara Mbaru Gendang berukuran lebih besar, yakni 15m. Semua rumah ini dibuat menghadap compang, altar batu yang disucikan.

Seperti kebanyakan rumah adat di Indonesia, Mbaru Niang berbentuk panggung dengan kolong setinggi kurang lebih 1m. Menurut Pak Alexander, ketua adat Wae Rebo, rumah dibuat tinggi karena ada aturan dari leluhur: lantai rumah tak boleh menyentuh tanah.

Begitu masuk ke dalam rumah, terdapat sebuah ruangan terbuka yang luasnya kurang lebih setengah dari luas total Mbaru Niang. Ruangan ini adalah lutur, sebuah ruangan multifungsi. Di sinilah tempat menerima tamu, tempat para penghuni rumah (khususnya laki-laki) bersosialisasi, sekaligus tempat tidur kaum laki-laki yang sudah dewasa. Di Mbaru Gendang, lutur ini berfungsi juga sebagai tempat upacara dan musyawarah.

Setengah bagian rumah lainnya disebut nolang. Area nolang ini terbagi lagi menjadi dua ruangan: dapur (sapo) dan kamar tidur (loang).  Ada 5 buah kamar tidur di sana, yang masing-masing dimiliki oleh satu keluarga. Kamar-kamar ini menghadap ke sebuah dapur dengan tungku besar. Ya, dapur mereka memang berada di tengah-tengah rumah. Uniknya, walaupun banyak asap yang keluar dari hasil memasak, saya tak merasa sesak. Ini disebabkan masih adanya sela-sela kecil di antara struktur atap yang membuat asap bisa menyusup keluar dari rumah. Konon katanya, asap dari dapur yang mengepul ke atas sekaligus berfungsi untuk mengawetkan struktur bangunan.

Di dekat dapur, ada sebilah bambu yang dilubang-lubangi. Ternyata itu adalah sebuah tangga untuk menuju tingkat atas. Mbaru Niang punya 5 tingkat, yang masing-masing punya nama dan fungsi yang berbeda. Tingkat pertama adalah tempat tempat kami masuk tadi, lutur dan nolang. Di atasnya ada lobo, loteng tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga terdapat lentar, yang fungsinya menyimpan benih untuk bercocok tanam. Tingkat keempat disebut dengan lempa rae, tempat menyimpan cadangan makanan. Tingkat terakhir adalah hekang kode, yakni tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.

Masak Bersama

Memang benar kata Pak Alex, untuk menjawab pertanyaan saya, saya harus melihat sendiri mereka di rumah. Kebersamaan memang amat terasa di rumah yang saya dan rombongan sambangi. Saat itu, tamu datang silih berganti, karena ada Mora, upacara adat yang baru mereka lakukan kembali sejak 365 tahun lalu. Para laki-laki sibuk mempersiapkan acara dan menyambut tamu, sementara para wanita sibuk memasak di dapur sambil sesekali ikut tertawa mendengar obrolan kami.  Para wanita tak bergabung bersama kami di lutur, karena memang ada pembagian ruang berdasarkan gender di Mbaru Niang. Para wanita, areanya adalah nolang, sementara lutur adalah area para laki-laki dan tamu. Saat berkumpul, para wanita tetap berada di areanya. Pun ketika makan tiba.

Melihat bentuk ruangan yang begitu komunal, kami jadi bertanya-tanya,  bagaimana cara mereka menandai “kepemilikan” mereka, karena area adalah milik bersama. Dapur bersama, tempat penyimpanan pun bersama.

Sugiarto, relawan LSM yang beberapa bulan ini tinggal di sana, menjawab pertanyaan kami. “Masing-masing punya lemari untuk simpan barang-barang keperluan pribadi dan lemari untuk alat masak sendiri. Tapi ada alat masak untuk bersama. Begitu juga soal penyimpanan di lobo. Masing-masing ada kavelingnya sendiri, “tuturnya.

ars 300-E

Ia juga menceritakan soal proses memasak warga Wae Rebo. Karena hanya ada satu dapur, mereka selalu memasak bersama-sama. Semua makanan dimakan bersama, meskipun ada juga masakan yang memang dimasak hanya untuk keluarga sendiri. “Selama saya tinggal di sini, ndak pernah ada yang namanya rebutan makanan dan barang. Semua sudah tahu mana yang milik dia, milik orang lain, atau milik bersama.”

Ya, memang itu intinya. Semua tau porsinya, semua tahu miliknya, semua dibagi bersama. Sesuatu yang harusnya ditiru oleh seluruh bangsa Indonesia.

ars 300-D
Inilah tempat tidur para lelaki dewasa

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s