Balada Makanan Halal

depositphotos_13704382-Halal-Products-Certified-SealMencari makanan halal di negara yang mayoritas penduduknya adalah non-muslim menjadi PR tersendiri bagi pemeluk agama Islam, termasuk saya. Saya kerap disindir teman, “kalau cari makanan halal terus, kapan menikmati menu lokal?”

Ya, memang. Kadangkala saya sama sekali tidak mencoba menu lokal di negara yang saya datangi. Atau, saya malah memakan kebab dan makanan India, di negara yang terkenal dengan kuliner enaknya, seperti Korea. Makanan India dan Kebab Turki memang dua makanan yang sering saya temui di perjalanan saya. Aneh sih makan kedua makanan itu bukan di negara asalnya. Tapi, bagaimana lagi?

Sebenarnya, saya selalu membawa sangu dari Indonesia yang isinya: pop mie, abon sapi, outmeal instan, susu diet pengganti sarapan. Makanan-makanan ini untuk jaga-jaga kalau saya tak bisa menemukan makanan halal dengan mudah. Karena kerap membawa sangu begini, saya jadi bahan ledekan teman-teman saya. Saya dijuluki “traveler pop mie”.

Saya memang rada pemilih soal makanan. Ada memang yang berprinsip, asal bukan babi, halal baginya. Kalau saya, berusaha lebih selektif. Sebisa mungkin yang saya cari pertama kali adalah restoran halal. Kalau sulit ditemukan, dan saya sangat kelaparan, baru saya mencari tempat makan yang hanya menyajikan makanan vegetarian atau hanya ayam. Jika ada kata “babi” di menunya, pasti saya tak akan singgahi.

Nah, susahnya adalah menanyakan apakan di restoran tersebut menyajikan babi atau tidak. Apalagi di kota yang penduduknya tak bisa bahasa Inggris. Kalau begini, saya biasanya meminta pemilik hostel atau penduduk lokal untuk menuliskan dalam bahasa setempat kata-kata “saya tak makan babi”.

Contohnya di bawah ini, yang saya dapatkan di Yangon, Myanmar. Walaupun agama Budha mendominasi, di negara itu masih punya banyak penduduk Muslim. Mereka rata-rata keturunan India atau Arab. Yang menuliskan ini adalah Ahmad, salah satu pedagang kaki lima keturunan Arab berwajah tampan, yang kasihan melihat saya sulit mencari taksi di tengah hujan. Ia bisa berbahasa Melayu dengan fasih karena pernah menjadi buruh perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

Tulisan dalam bahasa Myanmar yang artinya
Tulisan dalam bahasa Myanmar yang artinya “Saya dari Indonesia. Saya muslim, cari makanan halal, tidak makan babi.” Kata-kata “saya Indonesia” ditulis karena saat itu sedang terjadi konflik antaragama di Myanmar.

Pergi ke kawasan muslim adalah cara lain mendapatkan makanan halal. Beberapa kota punya daerah muslim. Di Mandalay area dekat hotel Nylon (25th street) adalah area yang dihuni puluhan keluarga muslim. Di Yangon, kawasan dekat Bogyoke Market adalah area muslim. Di Beijing, umat Islam berkumpul di kawasan Nui Jie, sekitar 30 menit dari Forbidden City. Di Seoul, kawasan muslim berada di dekat Soul Central Mosque di Itaewon.

Bagaimana cara menemukan kawasan muslim? Gampang. Cari masjid. Biasanya, di dekat masjid ada tempat tinggal umat muslim. Atau paling tidak ada restoran halal. Atau paling jelek, ada orang yang bisa ditanyai soal makanan halal.

Nah, untuk memastikan restoran itu halal dengan tidak, saya suka melihat atribut di restoran. Gambar Ka’bah di dinding, kaligrafi ayat Al Quran di dinding restoran, lafaldz Alloh di depan pintu masuk, adalah indikatornya. Atau yang paling jelas adalah plang berbahasa Arab. Di Beijing, plang restoran halal dilengkapi dengan tulisan berbahasa Arab.

Bagaimana kalau tidak ada restoran halal? Nah, itu juga sering terjadi. Saya cari alternatif, makan makanan vegetarian. Misalnya sewaktu ke Bagan kemaren. Tak ada restoran muslim di Old Bagan. Untungnya banyak restoran vegetarian di sana. Paling tidak, saya bisa memesan salad dan jus.

Pun ketika di Jepang. Sebenarnya di sana banyak makanan dari ikan. Tapi saya tak yakin mereka tak menggunakan sake untuk memasaknya. Ditambah lagi, entah kenapa saya lupa membawa sangu makanan andalan saya. Alhasil, saya lebih banyak makan onigiri beras merah vegetarian plus telor dan selada. Nasib..

TIP

Sebelum berangkat ke tujuan, saya selalu mencari daftar restoran halal di zabihah.com.

2 thoughts on “Balada Makanan Halal

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s