(My) Travelmate

“Ah, apa sih susahnya cari temen perjalanan? tinggal pasang iklan di milis, ketemuan di tempat tujuan, sharing cost, dan sebagainya.” Mungkin itu yang ada di pikiran orang ketika gue bilang, cari temen seperjalanan itu susah. Iya sih, itu yang berhasil. Tapi banyak juga yang gagal, lho!

Gue mendengar banyak cerita tentang ketidaknyamanan perjalanan karena temen seperjalanan. Dia nggak enak diajak susah, nggak satu selera, menyebalkan, manja, dan sebagainya. Contohnya temen gue, yang pergi bareng temen kuliahnya. Dia rela majuin tiket pulang ke Jakarta (dan pastinya ngeluarin biaya besar untuk itu) karena sebel banget dengan kelakuan temen seperjalannya. Temen gue yang lain lagi ngedumel karena temen seperjalannnya, yang dia kenal dari bangku SMA, nggak mau diajak jalan kaki ke mana-mana.

Perjalanan, apalagi yang jauh, memang memunculkan sifat asli seseorang. Di saat biasa, mungkin dia orang yang menyenangkan. Namun saat ngetrip bareng, dia bisa berubah jadi makhluk egois yang mengerikan.

Untung, gue mendapatkan temen seperjalanan yang klop banget. Keshie namanya. Temen gue ini udah sehati banget ama gue. Selain minat sama, gaji ampir sama, pemikiran dan gaya kita traveling pun sama.
Kita bisa backpakingan dengan gembel banget, tapi bisa juga cari yang nyaman. Sama-sama nggak suka dugem, ga suka belanja-belanja.

Gue dan dia pertama kali backpacking bareng di tahun 2007, ke Singapura. Setelah itu, kami bareng ke Bali, Bangkok, Kamboja, Vietnam, London, Lombok, Korea, dan sebagainya.

Karena udah lama banget ngetrip bareng, kami udah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Keshie jago banget cari info soal tempat tujuan. Sementara gue lebih jago merangkumnya dalam sebuah itenerary agar hemat waktu dan tenaga. Jadi biasanya, gue nerima laporan dari dia soal tempat-tempat itu, lalu gue bikin itenerarynya.

Begitupun dengan buking2an penginapan, tiket, dsb. Dia bisa gerak cepet nyari tempat nginep yang okeh, lalu ngebuking, dan deal-dealan dengan pemilik hostel. Jadi buat urusan hostel, biasanya gue pasrah aja dengan Keshie.

Itu masalah persiapan. Gimana dengan di lokasi? Nah, spesialisasi kita juga beda. Keshie agak bingung baca peta, jadi gue yang biasanya pegang peta. Dia biasanya kebagian nanya-nanya ke orang yang lewat, saat kita nyasar.

Gimana dengan kalian. Udah nemu teman seperjalanan yang menyenangkan?

5 thoughts on “(My) Travelmate

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s