Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Seharian di Angkor Wat

angkor wat sunrise

Hanya satu dua hari kami berada di Siam Reap, Kamboja. Tujuannya hanya satu, melihat kompleks bersejarah Angkor Wat.

Perjalanan backpacking Kamboja dan Vietnam kami berlanjut. Dari Ho Chi Minh, Vietnam kami naik bus selama 12 jam menuju Siam Reap, Kamboja.

Di Siam Reap, kami menginap di daerah Old Market. Dari beberapa rekomendasi hotel yang diberikan, akhirnya kami memutuskan menggunakan Hotel Popular Guest house Siam Reap. Pertimbangan kami, hotel ini tak jauh dari old market, dan beberapa market lainnya. Juga tak jauh dari jalan raya menuju Angkor Wat, dan paling murah di antara hotel yang lain. 

Dari hasil nego kawan saya, pemilik hotel di Siam Reap ini bersedia menjemput kami di kantor Sinh Tourist, yang ternyata lumayan jauh dari hotel. Kami dijemput dengan menggunakan tuk-tuk, dengan supir yang bernama Wandi. Wandi ini tampangnya persis orang Indonesia, tapi sok manis dan sok merayu. Dia pernah bilang ke kawan saya, “Your smile like a sunshine, heating my heart”. Ishhh…

Hotelnya sebenernya lumayan, tapi kamar yang diberikan ke kami kurang memuaskan. Awalnya sih kami akan diberikan kamar di lantai dua (yang menurut analisa kami itu kamar yang lebih bagus). Tapi paha saya dan kawan saya Keshie sakit akibat merangkak di Chu Chi Tunnel kemarin. Jadilah kami meminta kamar yang ada di bawah saja. Mereka sempat agak bingung sih, mungkin karena kamar yang di bawah kualitasnya tak sebaik yang di atas kali ya.

Sebenernya, kamar saya lumayan untuk harga sangat murah,  hanya agak berdebu dan panas (karena tak ada AC). Kamar dua kawan saya yang lain tampaknya lebih parah karena terletak di sebelah dapur. Pastinya lebih lembap, panas, dan gelap ….


Oya, si Wandi itu, sang supir tuk-tuk ternyata menjemput kami bukan tanpa pamrih. Ada udang di balik bakwan goreng. Dengan menjemput kami tadi, dia mengharapkan kami akan memakai jasa dia untuk berkeliling Siam Reap. Sesaat setelah sampai di hotel, dia langsung ngajak kami membicarakan “our business plan for tomorrow”.

Untuk menuju ke Angkor Wat, dia membandrol harga $20. Menurut dia, itu harga yang murah, dan dia tak mau memberikan harga yang mahal yang mesti kami tawar. Dari hasil gugling di internet, tarif yang normal berkisar 10-15 dolar. Makanya, kami langsung menolak tawaran itu dan mencoba menawar di angka 10.

Tampang dia, yang semula ramah, berubah menjadi menyebalkan. Dia menolak mentah-mentah tawaran kami. Namun sebagai emak-emak yang doyan belanja di tanah abang, kami tak gentar dengan taktik begini. Kami segera pergi, keluar dari hotel untuk jalan-jalan dan cari makan. Sesuai perkiraan, dia langsung mencegah kami dan mengatakan kalau harganya bisa turun. Setelah perdebatan alot, akhirnya kami sepakat di angka 13. Angka yang aneh dan nanggung.


Pagi-pagi buta (jam 4.30), Wandi menjemput kami di depan hotel. Kami memang minta dijemput pagi agar bisa menyaksikan sunrise di Angkor Wat yang termahsyur itu.  Setelah perjalanan melewati jalan-jalan yang gelap, setengah jam kemudian kami sampai di depan gerbang kompleks Angkor. Wandi membantu membelikan kami one day pass ticket di loket, seharga $ 20 per orang. Lumayan mahal memang.

Selain tiket one day pass, dijual juga ticket pass untuk 2 hari, 3 hari, seminggu dan sebulan! Banyak yang bilang, sehari tak akan cukup untuk mengitari Angkor. Memang iya sih, kalau dari awal sudah berniat mengelilingi seluruh komplek Angkor ini. Tapi kalau saya sih, sehari juga sudah cukup. Bosen kaan liat candi melulu.

Oiya, sebagai informasi, Angkor adalah nama kompleks seluas 400 km yang berisi ratusan candi peninggalan Raja Hindu yang dibangun dari abad ke 9 hingga abad ke-15. Salah satu candi di sini, yang paling terkenal, adalah Angkor Wat. Selain itu, masih banyak candi lain yang ada di kompleks ini misalnya Angkor Thom dan Ta Phrom, tempat syuting film Lara Croft.

Wandi mengajak kami ke tujuan pertama hari itu: menyaksikan matahari terbit di lotus pond alias kolam teratau di depan Angkor Wat. Sesampainya di sana, suasana masih gelap namun sudah banyak sekali orang yang berkerumun di depan danau, mencari spot yang tepat untuk mengabadikan keindahan Angkor Wat. Tempat-tempat terbagus biasanya sudah diisi oleh bangku-bangku yang disewakan oleh ibu-ibu penjual makanan. Tapi jangan khawatir tak mendapatkan spot, tempatnya luas kok. Kalaupun ga dapet, nyelip aja di antara bangku-bangku itu :p.

Memang, saat matahari muncul, Angkor Wat menjadi sangat indah. Bentuk candi, yang tadinya gelap tak terlihat, sedikit demi sedikit muncul sebagai siluet, dengan latar belakang langit yang kemerahan. Yang lebih keren, bayangan candi juga muncul di lotus pond. Mistis…

P1230867.JPG

Selepas dari Angkor Wat, kami melanjutkan perjalanan ke Angkor Thom atau dikenal juga dengan nama Bayon Temple.  Candi ini terkenal karena banyak patung four budha faces (patung budha dengan empat sisi), yang dipercaya membawa keberuntungan dalam hidup. Sewaktu di Thailand dulu, saya pernah diberitahu arti masing-masing wajah. Tapi lupa total.

Tujuan selanjutnya adalah Ta Phrom, tempat yang dijadikan setting Lara Croft dalam Tomb Rider. Yang sudah nonton filmnya pasti tau dong seperti apa candi ini. Yup, Ta Phrom adalah sisa-sisa candi yang berada di antara akar pohon besar.

P1230832.JPG
Ta Phrom

Perjalanan dilanjutkan dengan mengelilingi dan datang ke beberapa candi lain (yang namanya tak bisa saya ingat). Menurut saya nih, selain 3 candi yang sudah kami datangi tadi, candi yang lainnya biasaaa aja. Saya lebih menyukai Candi Prambanan yang cantik, atau Candi Borobudur yang megah.

Angkor Wat-1
Random temple (lupa namanya apa)

Perjalanan kami hari itu berakhir di Bakheng Phom, untuk melihat sunset. Bakheng Phom adalah sebuah candi yang terletak di sebuah bukit. Karena adanya di ketinggian itulah, ia dijadikan tempat melihat sunset.

Untuk mencapai candi itu, kami harus mendaki bukit yang lumayan tinggi ditambah mendaki anak tangga candi yang licin dan tinggi. (kenapa orang dulu bikin anak tangga tinggi banget ya). Kalau tak mau susah payah dan capek berjalan, sebenernya ada penyewaan gajah. Tapi ya itu, harganya mahal..

Sayangnya, cuaca sangat mendung saat itu hingga matahari tetutup awan gelap. Gagal deh usaha kami melihat sunset.

TIP MELIHAT ANGKOR WAT 

  • Bawa senter kecil, yang berguna banget karena banyak undakan di jalan menuju lotus pond. Jalan ini tak terlihat karena gelap.
  • Harga makanan di area Angkor cukup mahal. Paling murah adalah nasi goreng (tanpa telor) seharga 5 dolar. Jadi kalo mo irit tapi rada repot, bawa bekel sebanyak-banyaknya :p
  • Kalau belanja di Kamboja, tawar setega mungkin. Penjualnya pasti bilang, kasianlah saya, tambah lagi harganya, nanti anak saya mo dikasi apa kalau harganya segini, saya rugi, bla..bla..bla. Jangan kesian, itu emang taktik mereka biar kita ga nawar terlalu rendah
  • Hati-hati, di Siam Reap banyak copet dan banyak nyamuk!!

 

Popular Guest House #033, Group 10, Viheachin Village, Svaydangkum commune, Siem Reap District, Siem Reap. Tel : (855) 12 916165

Advertisements

2 thoughts on “Backpacking ke Kamboja dan Vietnam: Seharian di Angkor Wat

  1. Pingback: Long Way to Angkor Wat (part 4): Bus Phnom Penh yang Penuh Drama – Jilbab Backpacker

  2. Pingback: Long Way to Angkor Wat (part 5): Keliling Phnom Penh – Jilbab Backpacker

Ada komen?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s